Selasa, 18 Mei 2010

modifikasi mobil




cerita tangkuban perahu


Sangkuriang adalah legenda yang berasal dari Tatar Sunda. Legenda tersebut berkisah tentang penciptaan danau Bandung, Gunung Tangkuban Parahu, Gunung Burangrang dan Gunung Bukit Tunggul.

Dari legenda tersebut, kita dapat menentukan sudah berapa lama orang Sunda hidup di dataran tinggi Bandung. Dari legenda tersebut yang didukung dengan fakta geologi, diperkirakan bahwa orang Sunda telah hidup di dataran ini sejak beribu tahun sebelum Masehi.

Legenda Sangkuriang awalnya merupakan tradisi lisan. Rujukan tertulis mengenai legenda ini ada pada naskah Bujangga Manik yang ditulis pada daun palem yang berasal dari akhir abad ke-15 atau awal abad ke-16 Masehi. Dalam naskha tersebut ditulis bahwa Pangeran Jaya Pakuan alias Pangeran Bujangga Manik atau Ameng Layaran mengunjungi tempat-tempat suci agama Hindu di pulau Jawa dan pulau Bali pada akhir abad ke-15.

Setelah melakukan perjalanan panjang, Bujangga Manik tiba di tempat yang sekarang menjadi kota Bandung. Dia menjadi saksi mata yang pertama kali menuliskan nama tempat ini beserta legendanya. Laporannya adalah sebagai berikut:

Leumpang aing ka baratkeun (Aku berjalan ke arah barat)
datang ka Bukit Patenggeng (kemudian datang ke Gunung Patenggeng)
Sakakala Sang Kuriang (tempat legenda Sang Kuriang)
Masa dek nyitu Ci tarum (Waktu akan membendung Citarum)
Burung tembey kasiangan (tapi gagal karena kesiangan)

Daftar isi
[sembunyikan]

* 1 Ringkasan Cerita
* 2 Kesesuaian dengan fakta geologi
* 3 Sangkuriang dan Falsafah Sunda
* 4 Catatan Kaki
* 5 Rujukan

[sunting] Ringkasan Cerita

Diceritakan bahwa Raja Sungging Perbangkara pergi berburu. Di tengah hutan Sang Raja membuang air seni yang tertampung dalam daun caring (keladi hutan). Seekor babi hutan betina bernama Wayungyang yang tengah bertapa ingin menjadi manusia meminum air seni tadi. Wayungyang hamil dan melahirkan seorang bayi cantik. Bayi cantik itu dibawa ke keraton oleh ayahnya dan diberi nama Dayang Sumbi alias Rarasati. Banyak para raja yang meminangnya, tetapi seorang pun tidak ada yang diterima.

Akhirnya para raja saling berperang di antara sesamanya. Dayang Sumbi pun atas permitaannya sendiri mengasingkan diri di sebuah bukit ditemani seekor anjing jantan yaitu Si Tumang. Ketika sedang asyik bertenun, toropong (torak) yang tengah digunakan bertenun kain terjatuh ke bawah. Dayang Sumbi karena merasa malas, terlontar ucapan tanpa dipikir dulu, dia berjanji siapa pun yang mengambilkan torak yang terjatuh bila berjenis kelamin laki-laki, akan dijadikan suaminya. Si Tumang mengambilkan torak dan diberikan kepada Dayang Sumbi. Dayang Sumbi akhirnya melahirkan bayi laki-laki diberi nama Sangkuriang.

Ketika Sangkuriang berburu di dalam hutan disuruhnya si Tumang untuk mengejar babi betina Wayungyang. Karena si Tumang tidak menurut, lalu dibunuhnya. Hati si Tumang oleh Sangkuriang diberikan kepada Dayang Sumbi, lalu dimasak dan dimakannya. Setelah Dayang Sumbi mengetahui bahwa yang dimakannya adalah hati si Tumang, kemarahannya pun memuncak serta merta kepala Sangkuriang dipukul dengan senduk yang terbuat dari tempurung kelapa sehingga luka.

Sangkuriang pergi mengembara mengelilingi dunia. Setelah sekian lama berjalan ke arah timur akhirnya sampailah di arah barat lagi dan tanpa sadar telah tiba kembali di tempat Dayang Sumbi, tempat ibunya berada. Sangkuriang tidak mengenal bahwa putri cantik yang ditemukannya adalah Dayang Sumbi - ibunya. Terminological kisah kasih di antara kedua insan itu. Tanpa sengaja Dayang Sumbi mengetahui bahwa Sangkuriang adalah puteranya, dengan tanda luka di kepalanya. Walau demikian Sangkuriang tetap memaksa untuk menikahinya. Dayang Sumbi meminta agar Sangkuriang membuatkan perahu dan telaga (danau) dalam waktu semalam dengan membendung sungai Citarum. Sangkuriang menyanggupinya.

Maka dibuatlah perahu dari sebuah pohon yang tumbuh di arah timur, tunggul/pokok pohon itu berubah menjadi gunung ukit Tanggul. Rantingnya ditumpukkan di sebelah barat dan menjadi Gunung Burangrang. Dengan bantuan para guriang, bendungan pun hampir selesai dikerjakan. Tetapi Dayang Sumbi bermohon kepada Sang Hyang Tunggal agar maksud Sangkuriang tidak terwujud. Dayang Sumbi menebarkan irisan boeh rarang (kain putih hasil tenunannya), ketika itu pula fajar pun merekah di ufuk timur. Sangkuriang menjadi gusar, dipuncak kemarahannya, bendungan yang berada di Sanghyang Tikoro dijebolnya, sumbat aliran sungai Citarum dilemparkannya ke arah timur dan menjelma menjadi Gunung Manglayang. Air Talaga Bandung pun menjadi surut kembali. Perahu yang dikerjakan dengan bersusah payah ditendangnya ke arah utara dan berubah wujud menjadi Gunung Tangkuban Perahu.

Sangkuriang terus mengejar Dayang Sumbi yang mendadak menghilang di Gunung Putri dan berubah menjadi setangkai bunga jaksi. Adapun Sangkuriang setelah sampai di sebuah tempat yang disebut dengan Ujung berung akhirnya menghilang ke alam gaib (ngahiyang).
[sunting] Kesesuaian dengan fakta geologi

Legenda Sangkuriang sesuai dengan fakta geologi terciptanya Danau Bandung dan Gunung Tangkuban Parahu.

Penelitian geologis mutakhir menunjukkan bahwa sisa-sisa danau purba sudah berumur 125 ribu tahun. Danau tersebut mengering 16.000 tahun yang lalu.

Telah terjadi dua letusan Gunung Sunda purba dengan tipe letusan Plinian masing-masing 105.000 dan 55.000-50.000 tahun yang lalu. Letusan plinian kedua telah meruntuhkan kaldera Gunung Sunda purba sehingga menciptakan Gunung Tangkuban Parahu, Gunung Burangrang (disebut juga Gunung Sunda), dan Gunung Bukittunggul.

Adalah sangat mungkin bahwa orang Sunda purba telah menempati dataran tinggi Bandung dan menyaksikan letusan Plinian kedua yang menyapu pemukiman sebelah barat Ci Tarum (utara dan barat laut Bandung) selama periode letusan pada 55.000-50.000 tahun yang lalu saat Gunung Tangkuban Parahu tercipta dari sisa-sisa Gunung Sunda purba. Masa ini adalah masanya Homo sapiens; mereka telah teridentifikasi hidup di Australia selatan pada 62.000 tahun yang lalu, semasa dengan Manusia Jawa (Wajak) sekitar 50.000 tahun yang lalu.
[sunting] Sangkuriang dan Falsafah Sunda

Menurut Hidayat Suryalaga, legenda atau sasakala Sangkuriang dimaksudkan sebagai cahaya pencerahan (Sungging Perbangkara) bagi siapa pun manusianya (tumbuhan cariang) yang masih bimbang akan keberadaan dirinya dan berkeinginan menemukan jatidiri kemanusiannya (Wayungyang). Hasil yang diperoleh dari pencariannya ini akan melahirkan kata hati (nurani) sebagai kebenaran sejati (Dayang Sumbi, Rarasati). Tetapi bila tidak disertai dengan kehati-hatian dan kesadaran penuh/eling (teropong), maka dirinya akan dikuasai dan digagahi oleh rasa kebimbangan yang terus menerus (digagahi si Tumang) yang akan melahirkan ego-ego yang egoistis, yaitu jiwa yang belum tercerahkan (Sangkuriang). Ketika Sang Nurani termakan lagi oleh kewaswasan (Dayang Sumbi memakan hati si Tumang) maka hilanglah kesadaran yang hakiki. Rasa menyesal yang dialami Sang Nurani dilampiaskan dengan dipukulnya kesombongan rasio Sang Ego (kepala Sangkuriang dipukul). Kesombongannya pula yang mempengaruhi “Sang Ego Rasio” untuk menjauhi dan meninggalkan Sang Nurani. Ternyata keangkuhan Sang Ego Rasio yang berlelah-lelah mencari ilmu (kecerdasan intelektual) selama pengembaraannya di dunia (menuju ke arah Timur). Pada akhirnya kembali ke barat yang secara sadar maupun tidak sadar selalu dicari dan dirindukannya yaitu Sang Nurani (Pertemuan Sangkuriang dengan Dayang Sumbi).

Walau demikian ternyata penyatuan antara Sang Ego Rasio (Sangkuriang) dengan Sang Nurani yang tercerahkan (Dayang Sumbi), tidak semudah yang diperkirakan. Berbekal ilmu pengetahuan yang telah dikuasainya Sang Ego Rasio (Sangkuriang) harus mampu membuat suatu kehidupan sosial yang dilandasi kasih sayang, interdependency – silih asih-asah dan silih asuh yang humanis harmonis, yaitu satu telaga kehidupan sosial (membuat Talaga Bandung) yang dihuni berbagai kumpulan manusia dengan bermacam ragam perangainya (Citarum). Sementara itu keutuhan jatidirinya pun harus dibentuk pula oleh Sang Ego Rasio sendiri (pembuatan perahu). Keberadaan Sang Ego Rasio itu pun tidak terlepas dari sejarah dirinya, ada pokok yang menjadi asal muasalnya (Bukit Tunggul, pohon sajaratun) sejak dari awal keberada-annya (timur, tempat awal terbit kehidupan). Sang Ego Rasio pun harus pula menunjukkan keberadaan dirinya (tutunggul, penada diri) dan pada akhirnya dia pun akan mempunyai keturunan yang terwujud dalam masyarakat yang akan datangd dan suatu waktu semuanya berakhir ditelan masa menjadi setumpuk tulang-belulang (gunung Burangrang).

Betapa mengenaskan, bila ternyata harapan untuk bersatunya Sang Ego Rasio dengan Sang Nurani yang tercerahkan (hampir terjadi perkawinan Sangkuriang dengan Dayang Sumbi), gagal karena keburu hadir sang titik akhir, akhir hayat dikandung badan (boeh rarang atau kain kafan). Akhirnya suratan takdir yang menimpa Sang Ego Rasio hanyalah rasa menyesal yang teramat sangat dan marah kepada “dirinya”. Maka ditendangnya keegoisan rasio dirinya, jadilah seonggok manusia transendental tertelungkup meratapi kemalangan yang menimpa dirinya (Gunung Tangkubanparahu).

Walau demikian lantaran sang Ego Rasio masih merasa penasaran, dikejarnya terus Sang Nurani yang tercerahkan dambaan dirinya (Dayang Sumbi) dengan harapan dapat luluh bersatu antara Sang Ego Rasio dengan Sang Nurani. Tetapi ternyata Sang Nurani yang tercerahkan hanya menampakkan diri menjadi saksi atas perilaku yang pernah terjadi dan dialami Sang Ego Rasio (bunga Jaksi).

Akhir kisah yaitu ketika datangnya kesadaran berakhirnya kepongahan rasionya (Ujungberung). Dengan kesadarannya pula, dicabut dan dilemparkannya sumbat dominasi keangkuhan rasio (gunung Manglayang). Maka kini terbukalah saluran proses berkomunikasi yang santun dengan siapa pun (Sanghyang Tikoro atau tenggorokan; B.Sunda: Hade ku omong goreng ku omong). Dan dengan cermat dijaga benar makanan yang masuk ke dalam mulutnya agar selalu yang halal bersih dan bermanfaat. (Sanghyang Tikoro = kerongkongan, genggerong).

Senin, 17 Mei 2010

PUISI PERASAAN



BERHENTI BERHARAP

Aku tak percaya lagi..
dengan apa yang kau beri..
aku terdampar disini..
tersudut menunggu mati..
Aku tak percaya lagi..
akan guna matahari..
yang tak mampu tuk terangi..
sudut gelap hati ini..

Aku berhenti berharap..
Dan menunggu datang gelap..
Hingga nanti suatu saat..
Tak ada cinta ku dapat..
Mengapa ada derita?
Bila bahagia tercipta..
Mengapa ada sang hitam..
Bila putih menyenangkan..

Aku pulang.. tanpa dendam..
Ku terima.. kekalahanku..
Aku pulang.. tanpa dengan..
Ku salutkan.. kemenanganmu..

Kau ajarkan aku bahagia.. kau ajarkan aku derita..
kau tunjukan aku bahagia.. kau tunjukan aku derita..
kau berikan aku bahagia.. kau berikan aku derita..

GUNUNG SLAMET


PRAKATA

Menurut ceritane wong tua, Gunung Slamet pancen mandan sejen/beda karo gunung-gunung liyane nang tlatah Jawa, Gunung Slamet pancen dudu gunung sing biasa didaki mung kanggo tujuan wisata/rekreasi, hobi utawa mung sekedar pengin naklukaken. Pendakian meng puncak Gunung Slamet biasane kanggo tujuan-tujuan khusus umpamane merga ana alesan spiritual, mulane pendaki-pendaki kudu nglengkapi syarat-syarate ndisit.

SYARAT DAN PANTANGAN

Pendaki kudu nggawa kembang, Kemenyan, karo kudu ana Juru Kunci sing njujugna. Cok-cokan pancen ana pendaki sing ora nggawa syarat-syarat kuwe ningen asal tingkaeh ora kebangeten, dheweke bisa slamet paling-paling pendaki kuwe ngalami utawa ndeleng kedaden-kedaden sing mandan aneh, ning ora mbahayani jiwane.

Pantangan sing paling penting tur kudu dieling-eling jan aja nganti dilanggar kuwe cawaran utawi aja nylemong sekarepe dewek.

JURU KUNCI

Ana papat wong sing dipercaya ning sekitar kawasan lereng gunung Slamet. sing pertama Warsito sekang desa Sirameng sing ngewarisi sekang buyute: Nini Manten Sarak, juru kunci wadon ning jaman Belanda. Nini Manten Sarak mau keturunan pertama juru kunci sekang desa Siremeng.

Juru kunci keloro Sumedi, keturunan Mbah Naprawi, juru kunci sekang Bambangan.

Ketelu, Warjono, sekang Jurangmangu, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang.

Terakhir jenenge Karsad sekang Dukuh Liwung, Guci, Tegal.

Para pendaki sing lewat salah siji sekang patang juru kunci mau bisa dipastikna bakal aman. Soale munggah Gunung Slamet beda karo munggah gunung-gunung liyane. Aturanne para pendaki kudu diterna neng juru kunci. Mergane juru kunci mau wong-wong sing terpilih lan mereka kudu nglengkapi syarat sing ora bisa dibantah, yakuwe kudu wong sing nduweni garis keturunan dina kelairan Setu Wage.

PANTANGAN LIYANE

Saliyane ora olih sembarang ngucap, pantangan liyan sing kudu dipatuhi kuwe pendaki ore olih mesum karo ora olih nyekel dengkul. Pantangan kaping loro bisa dianggepe wajar sebabe ora mung nang gunung Slamet, nang ngendi bae ding dianggep keramat, wong sing teka ora olih mesum. Tapine pantangan sing terakhir kiye mandan ora mlebu nang akal. Tapi, ya kaya kuwe kenyataane. Pendaki sing nyekeli dengkul pas manjat, bisa dipastikna ora bakalan tekan puncak.Iya soale uwis kekeselen dadine nyekeli dengkul bae. Aja kaya kuwelah.ngomong sing bener bae ben wong wong ora wedi munggah ming gunung slamet. Soale makin akeh sing munggah mestine makin akeh maning pemasukan nggo wong sekitare ( brambangan sekitare ). Sing jelas gunung slamet is the best-lah di banding gunung gunung liyane.

DINA PANTANGAN

kejaba kuwe,ana dina-dina tertentu sing ora olih dinggo ndaki. maksude, nang dina-dina kuwe pendaki ora olih babar blas munggah gunung Slamet. aja maning pendaki, juru kunci bae ora wani munggah nang dina-dina larangan. Dina-dinane yakuwe:'Minggu Legi, Slasa Legi, Setu Paing, Minggu Paing. kejaba dina kuwe, juru kunci pasti seneng banget nganter pendaki.

Sing ndadekna beda Gunung Slamet kuwe bahwa pendaki sebenere kudu ngagawa kembang lan kemenyan. Maksude kanggo sesajen marang sing mbaureksa gunung Slamet. Sebenere Gunung Slamet dudu kanggo refresing atawa nyalurna hobby tok. Nanging luwih saka kuwe gunung Slamet sebenare kaya panggonan sing kanggo wong memohon supaya kekarepane dikabulna. Hal kuwe dibuktekna anane syukuran warga masyarakat sekitar saben tanggal siji sura(1 Muharam). Syukuran kuwe awujud tumpeng kendit, diarani ngono soale tumpeng kuwe digawe saka beras abang sing tujukna kanggo para leluhur nang Gunung Slamet.

Ana pengalaman sing dialami kancaku saka brebes ( wis limasan tahun kepungkur ). Critane rombongan mahasiswa pencinta alam saka Semarang lagi ngadakna pendakian maring Gunung Slamet, salah sijine kuwe ya kancaku sing asal brebes. Nang perjalanan balik saka pendakian embuh priben critane ana kanca siji sing kesingsal. diluruh tekan saiki durung ketemu. Saat kuwe dicritani karo wong pinter jarene kancaku nemuni dalan liya sing dikira dalan bener jebule dalan sing nuju maring alam liya. Mergane jare wong pinter kuwe kancaku ngglanggar salah sijine larangan sing kudu dihindari. Wallahualam.......

KELUARGA BESAR


Satuan Karya Pramuka Bhayangkara adalah wadah kegiatan kebhayangkaraan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan praktis dalam bidang keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas), guna menumbuhkan kesadaran berperan serta dalam pembangunan nasional.Ialah Satuan Karya yang membidangi bidang kebhayangkaraan.

Saka Bhayangkara ialah Satuan Karya terbesar dan paling berkembang di Indonesia.Saka Bhayangkara dapat dibentuk di hampir seluruh wilayah Kwartir di Indonesia, tidak terbatas pada suatu sumber daya atau kondisi alam.Dalam pelatihan Saka Bhayangkara, umumnya Gerakan Pramuka bekerjasama dengan pihak Kepolisian Republik Indonesia dan terkadang memperbantukan pihak Dinas Pemadam Kebakaran. Biasanya Saka Bhayangkara berada dibawah pembinaan POLRI.

Saka Bhayangkara meliputi 4 krida, yaitu :

1. Krida Ketertiban Masyarakat (Tibmas)
2. Krida Lalu Lintas (Lantas)
3. Krida Pencegahan dan Penaggulangan Bencana
4. Krida Tindakan Pertama Tempat Kejadian Perkara (TPTKP)

pada krida Pencegahan dan Penanggulangan Bencana terdapat 4 sub krida :

1. Subkrida PASKUD (Pasukan Berkuda)
2. Subkrida PASKAN (Pasukan Anjing Pelacak)
3. Subkrida DAMKAR (Pemada Kebakaran)
4. Subkrida SAR (Search And Rescue)

Selasa, 04 Mei 2010

SEJARAH TAMAN KARYA


SMK Taman Karya Madya Teknik Kebumen merupakan sekolah yang berada di bawah Majelis Luhur Yayasan Perguruan Tamansiswa Yogyakarta. pada awalnya Perguruan Tamansiswa Cabang Kebumen hanya memiliki satu bagian yaitu Taman Dewasa (SMP) yang didirikan oleh para gerilyawan yang turun gunungpada tahun 1950, dengan hanya memiliki satu kelas dengan meminjam rumah di Jl. Klenteng sebagai ruang kelas. Baru pada tahun 1951 Perguruan Tamansiswa Cabang Kebumen diresmikan sebagai Cabang Persatuan Tamansiswa yang berpusat di Yogyakarta dengan nomor 31.
Taman Dewasa ( SMP ) pada tahun 1951 mulai berkembang dengan menggunakan lokasi di Jl. Klenten dan Jl. Merdeka sebagai ruang kelas. Setelah dapat membeli puing - puing di Jl. Merdeka 41 dan kemudian diperbaiki, sekarang kita kenal dengan Jl. Mayjen Sutoyo 9. Pada tahun 1958 Perguruan Tamansiswa Cabang Kebumen membuka bagian baru yaitu Taman Madya ( SMA ), akan tetapi mengalami kemunduran. Kemudian untuk mengembangkan cabang, maka pada tahun 1968 Taman Dewasa ( SMP ) beralih fungsi menjadi Taman Karya Dewasa ( ST ) dan mendapat limpahan siswa dari ST Pancasila.

Pada tanggal 1 Januari 1968 didirikanlah Taman Karya Madya Teknik ( STM ), yang diawali dengan membuka jurusan Bangunan Gedung dan memperoleh 2 kelas. pada tahun 1971 dibukalah jurusan baru yaitu jurusan Listrik. Pada tahun 2001 / 2002 SMK Taman Karya Madya Teknik membuka jurusan baru yaitu Teknik Mesin dengan program keahlian Teknik Mekanik Otomotif. setelah Perguruan Tamansiswa menyediakan lokasi baru di Jl. Cincin Kota No. 18 Karangsari, Kebumen, ternyata jurusan baru ini menyedot animo masyarakat yang cukup besar. Pada awal tahun 2001 siswa baru mencapai 7 kelas. dan pada tahun pelajaran 2006 / 2007 dapat menerima siswa sebanyak 20 kelas yang merupakan pencapaian terbesar dengan perincian 2 kelas Teknik Instalasi Listrik dan 18 kelas Teknik Mekanik Otomotif.

Pada tahun pelajaran 2008/2009 telah menambah ruang kelas untuk siswa sebayak 20 kelas dan pada tahun pelajaran 2009/2010 mendapatkan pendaftar Siswa sebanyak 20 kelas.

CERITA MALIN KUNDANG


Pada suatu waktu, hiduplah sebuah keluarga nelayan di pesisir pantai wilayah Sumatera Barat. Karena kondisi keuangan keluarga memprihatinkan, sang ayah memutuskan untuk mencari nafkah di negeri seberang dengan mengarungi lautan yang luas. Ayah Malin tidak pernah kembali ke kampung halamannya sehingga ibunya harus menggantikan posisi ayah Malin untuk mencari nafkah.

Malin termasuk anak yang cerdas tetapi sedikit nakal. Ia sering mengejar ayam dan memukulnya dengan sapu. Suatu hari ketika Malin sedang mengejar ayam, ia tersandung batu dan lengan kanannya luka terkena batu. Luka tersebut menjadi berbekas dilengannya dan tidak bisa hilang.

Karena merasa kasihan dengan ibunya yang banting tulang mencari nafkah untuk membesarkan dirinya. Malin memutuskan untuk pergi merantau agar dapat menjadi kaya raya setelah kembali ke kampung halaman kelak.

Awalnya Ibu Malin Kundang kurang setuju, mengingat suaminya juga tidak pernah kembali setelah pergi merantau tetapi Malin tetap bersikeras sehingga akhirnya dia rela melepas Malin pergi merantau dengan menumpang kapal seorang saudagar.Selama berada di kapal, Malin Kundang banyak belajar tentang ilmu pelayaran pada anak buah kapal yang sudah berpengalaman.

Di tengah perjalanan, tiba-tiba kapal yang dinaiki Malin Kundang di serang oleh bajak laut. Semua barang dagangan para pedagang yang berada di kapal dirampas oleh bajak laut. Bahkan sebagian besar awak kapal dan orang yang berada di kapal tersebut dibunuh oleh para bajak laut. Malin Kundang beruntung, dia sempat bersembunyi di sebuah ruang kecil yang tertutup oleh kayu sehingga tidak dibunuh oleh para bajak laut.

Malin Kundang terkatung-katung ditengah laut, hingga akhirnya kapal yang ditumpanginya terdampar di sebuah pantai. Dengan tenaga yang tersisa, Malin Kundang berjalan menuju ke desa yang terdekat dari pantai. Desa tempat Malin terdampar adalah desa yang sangat subur. Dengan keuletan dan kegigihannya dalam bekerja, Malin lama kelamaan berhasil menjadi seorang yang kaya raya. Ia memiliki banyak kapal dagang dengan anak buah yang jumlahnya lebih dari 100 orang. Setelah menjadi kaya raya, Malin Kundang mempersunting seorang gadis untuk menjadi istrinya.

Berita Malin Kundang yang telah menjadi kaya raya dan telah menikah sampai juga kepada ibu Malin Kundang. Ibu Malin Kundang merasa bersyukur dan sangat gembira anaknya telah berhasil. Sejak saat itu, ibu Malin setiap hari pergi ke dermaga, menantikan anaknya yang mungkin pulang ke kampung halamannya.

Setelah beberapa lama menikah, Malin dan istrinya melakukan pelayaran disertai anak buah kapal serta pengawalnya yang banyak. Ibu Malin yang melihat kedatangan kapal itu ke dermaga melihat ada dua orang yang sedang berdiri di atas geladak kapal. Ia yakin kalau yang sedang berdiri itu adalah anaknya Malin Kundang beserta istrinya.

Ibu Malin pun menuju ke arah kapal. Setelah cukup dekat, ibunya melihat bekas luka dilengan kanan orang tersebut, semakin yakinlah ibunya bahwa yang ia dekati adalah Malin Kundang. "Malin Kundang, anakku, mengapa kau pergi begitu lama tanpa mengirimkan kabar?", katanya sambil memeluk Malin Kundang. Tetapi melihat wanita tua yang berpakaian lusuh dan kotor memeluknya Malin Kundang menjadi marah meskipun ia mengetahui bahwa wanita tua itu adalah ibunya, karena dia malu bila hal ini diketahui oleh istrinya dan juga anak buahnya.

Mendapat perlakukan seperti itu dari anaknya ibu Malin Kundang sangat marah. Ia tidak menduga anaknya menjadi anak durhaka. Karena kemarahannya yang memuncak, ibu Malin menyumpah anaknya "Oh Tuhan, kalau benar ia anakku, aku sumpahi dia menjadi sebuah batu".

Tidak berapa lama kemudian Malin Kundang kembali pergi berlayar dan di tengah perjalanan datang badai dahsyat menghancurkan kapal Malin Kundang. Setelah itu tubuh Malin Kundang perlahan menjadi kaku dan lama-kelamaan akhirnya berbentuk menjadi sebuah batu karang. Sampai saat ini Batu Malin Kundang masih dapat dilihat di sebuah pantai bernama pantai Aia Manih, di selatan kota Padang, Sumatera Barat.

Senin, 19 April 2010

BHAYANGKARA POLRES KEBUMEN

SAKA BHAYANGKARA ADALAH PENDIDIKAN KEPRAMUKAAN GUNA MENYALURKAN MINAT,MENGEMBANGKAN BAKAT,DAN MENINGKATKAN PENGETAHUAN KEMAMPUAN KETRAMPILAN DAN PENGALAMAN PARA PRAMUKA DALAM BERBAGAI KEJURUAN BIDANG SERTA MENINGKATKAN NOTIVAI UNTUK KEGIATAN NYATA DAN PRODUKTIF SEHINGGA DAPAT MEMBERIKAN BEKAL BAGI KEHIDUPAN DAN PENGHIDUPAN SERTA BEKAL PENGABDIANNYA PADA MASYARAKAT,BANGSA DAN NEGARA SESUAI DENGAN ASPIRASI PEMUDA INDONESIA DAN TUNTUTAN PERKEMBANGAN PEMBANGUNAN DALAM RANGKA PERTAHANAN NASIONAL

ARTI KIAS SAKA BHAYANGKARA:
1.BENTUK SEGI 5 >>>MELAMBANGKAN FALSAFAT PANCASILA
2.BINTANG 3DAN PERISAI >>>MELAMBANGKAN TRI BRATA DAN CATUR RASETYA SEBAGAI KODE ETIK KESATUAN RI
3.OBOR >>>MELAMBANGKAN SUMBER TERANG SEJATI
4.API YANG MENJULANG 3 BAGIAN YANG SAMA >>>MELAMBANGKAN TRIWIRA KRAMA
A.KESADARAN
B.KEWASPADAAN
C.KEBIJAKSANAAN
5.TUNAS KELAPA >>>MELAMBANGKAN GERAKN PAMUKA DENGAN SEGALA GERAKAN

KAMI DARI SAKA BHAYANGKARA POLRES KEBUMEN AKAN BERUSAHA UNTUK MENIADAKAN SEGALA BENTUK GANGGUAN YANG ADA DIINDONESIA,,DAN KAMI AKAN MENJUNJUNG TINGGI KESEJAHTERAAN DENGAN APA YANG KITA DAPAT DARI SAKA BHAYANGKARA POLRES KEBUMEN,,,

MAJU INDONESIAKU,,,
S@K@ BH@Y@NGK@R@ POLRES KEBUMEN

Jumat, 22 Januari 2010

SMK TAMAN KARYA MADYA TEKHNIK KEBUMEN


SMK TAMAN KARYA MADYA TEKHNIK KEBUMEN is the best school...
MAJU sekolahku....
jadikanlah SMK TAMAN KARYA MADYA TEKHNIK KEBUMEN menjadi sekolah unggul dari yang lain....
KALIAN TAHU GA,,MULAI TAHUN SEKARANG SMK TAMAN KARYA MADYA TEKHNIK KEBUMEN MEMBUKA JURUSAN BARU YAITU MULTIMEDIA,,
KARENA SEKOLAH KAMI DIPERCAYA MAMPU MENINGKATKAN WAWASAN UNTUK GENERASI-GENERASI MUDA,,,
I LOVE SMK TAMAN KARYA,,,